Pages

Kamis, 02 Juni 2011

Ilmu dalam perspektif Islam


Idealnya kehidupan dan prilaku umat Islam merupakan perwujudan dari keagungan dan kebenaran ajaran Islam. Namun dalam kenyataannya terdapat jurang yang lebar antara keduanya. Oleh karena itu kita tidak bisa menilai Islam dari kehidupan dan prestasi para penganutnya. Demikian pula ketika kita hendak melihat bagaimana pandangan Islam tentang ilmu, tidak cukup hanya dengan menilai prestasi umat Islam, apalagi umat Islam saat ini yang sedang terjajah secara keilmuan. Kita harus merujuk langsung ke dua sumber utamanya Islam, yakni Al Qur’an dan Al Hadist.
Menurut penelitian Dawam Raharjo,1 kata ilmu (ilm) dalam Al Qur’an disebut sebanyak 105 kali, tetapi jika dihitung berikut kata jadiannya menjadi 744 dengan perin­cian : alima (35), ya’ lamu (215), i’lam (31), yu’lamu (1), ‘ilm (105), ‘alim (18), ma’lum (13), ‘alamin (73), ‘alam (3), a’lam (49), ‘alim atau ulama (163), ‘allam (4), yu’allimu (16), ‘ulima (3), mu’allam (1) dan ta’allama (2). 
Dari kata jadian tersebut muncul beberapa peng­ertian seperti; mengetahui, pengetahuan, orang yang berpengetahuan, yang tahu, terpelajar, paling menget­ahui, memahami, mengetahui segala sesuatu, lebih tahu, sangat mengetahui, cerdik, mengajar, belajar, orang yang menerima pelajaran. Selain itu muncul juga penger­tian tanda, alamat, tanda batas, tanda peringatan, segala kejadian alam, alam (dunia), segala yang ada, segala yang dapat diketahui. Selanjutnya menurut Dawam terdapat kata lain yang semakna dengan ilmu yaitu ‘arafa, khabara, dara, sya’ara, ya’isa, ankara, bashirah dan hakim
Penyebutan kata ilmu yang berulang ulang dalam Al - Qur’an menunjukan kepada kita bahwa ilmu merupakan salah satu konsep kunci dalam Islam sekaligus menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap ilmu. Berikut kita petik beberapa ayat Al Qur’an yang berisi dorongan kepada umat Islam untuk menguasai ilmu :
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan dalam silih bergantinya malam dan siang, adalah pertanda (ayat) bagi Ulil albab. Yaitu orang-orang yang melakukan refleksi (tadzakkur) tentang Allah ketika mereka sedang berdiri, sedang duduk maupun sedang berbaring sambil memikirkan (tafakkur) tentang kejadian langit dan bumi. Dan mereka berkata “Tuhan kami, Engkau tak menciptakannya tanpa tujuan, Maha Suci Engkau. Selamatkanlah kami dari siksa neraka “ (QS 3 ;190-191).

Katakanlah : “ Samakah orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu ? Hanya orang-orang yang mengerti yang dapat memikirkan (QS 39;9).

Selain dalam Al Qur’an, dorongan mencari ilmu kita dapatkan dalam serangkaian hadist Nabi saw sebagai berikut : Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina ; Carilah ilmu sejak dari buaian ibu sampai liang lahat (sepanjang hayat); Barang siapa wafat sedang mengembangkan ilmu untuk menghidupkan Islam, maka ia lebih berhak dari yang lain; Para ulama itu adalah pewaris nabi; Pada hari qiamat ditimbanglah tinta ulama dengan darah syuhada, maka tinta ulama dilebihkan dari darah syuhada.
Dorongan yang demikian besar dari Al Qur’an dan hadist kepada umat Islam untuk menguasai ilmu, telah membangun etos tersendiri pada kehidupan generasi awal umat Islam. Hal ini dapat kita lihat dari sederetan ilmuan muslim beserta karya-karya legendaris mereka. Di bidang matematika dikenal nama Al Khawarizmi, Umar Khaiyam, Ikhwan Al Shafa dll. Di bidang astronomi dike­nal nama Fadhl ibn al Naubakht, Muhammad Ibnu Musa al Khawarazmi, Al Batani, Abdul Rahman Al Shufi, Ibnu Bajjah dll. Di bidang fisika kita kenal Ibnu al Haitsam, Al Biruni, Al Khazimi, Di bidang ilmu-ilmu sosial dikenal nama-nama Abdullah al Hawami, Abdullah Muhammad ibn Ishaq, Sufyan ibn Said ibn Masruq, Ibn Khaldun dll.2
Sayangnya semangat keilmuan yang telah melahirkan karya-karya besar legendaris dan telah mengangkat umat Islam ke puncak kejayaan peradaban, tidak bertahan selam­anya surut untuk kurun waktu setelah abad ke-12 sampai saat ini. Bahkan saat ini umat Islam berada pada kondisi paling buruk yang hanya menjadi konsumen ilmu-ilmu (lebih tepat disebut sains) Barat yang dibangun berdasar konsep-konsep yang sama sekali berbeda dengan Islam. Namun demikian, tidak berarti dalam kurun waktu setelah abad ke-12 tidak lahir ilmuwan-ilmuwan besar muslim, hanya saja kalah secara kuantitatif maupun kualitatif dari Barat.
Dalam membaca sejarah perkembangan ilmu yang ditu­lis oleh kalangan Barat dibutuhkan sikap ekstra hati-hati, mengingat terdapat kecenderungan upaya memutarba­likkan fakta sejarah mengenai peranan Islam terdapat peradaban dunia. Keith Wilkes misalnya, dalam The Reli­gion and Science tanpa malu-malu mamutarbalikkan fakta sejarah yang sudah cukup dikenal umum.
Barat sering mengklaim bahwa metoda ilmiah merupa­kan penemuan dari Roger Bacon (1214-1292) yang dikem­bangkan oleh Francis Bacon (1561-1627). Prof. J.W. Drafer dalam karyanya History of the Conflict Between Religioan and Science membongkar kepalsuan klaim terse­but. Penulis lain, Robert Brifault dalam The Making of Humanity membuktikan bahwa Roger Bacon dan Fancis Bacon meniru tradisi ilmiah dari tradisi Islam. Brifault menyebut Roger Bacon tidak lebih sebagai plagiator dan utusan keilmuan muslim ke Barat. Opus Majus adalah karya jiplakan dari Al Syifa karya Ibn Sina. Nama lain seperti Constatinus Africanus, oleh Dr Akhmad Munawar Anees disebut sebagai pencuri terbesar dalam peradaban Barat karena ia telah menjiplak bulat-bulat sepuluh buku yang ditulis ilmuwan muslim tanpa menyebut penulisnya bahkan mengklaim sebagai karyanya.3
Kini jelas bahwa ketertinggalan umat Islam dari Barat di bidang keilmuan bukan karena agama Islam anti kemajuan ilmu, bahkan sebaliknya Islam menghargai ilmu dan orang yang berilmu. Selain itu, tidak pernah terca­tat dalam sejarah Islam ada seorang ilmuwan yang dihukum oleh penguasa (umara dan ulama) karena penemuan-penemuannya sebagaimana terjadi dalam sejarah Kristen. Kalau kita telurusi sejarah, justru para penguasa Islam memiliki perhatian yang besar terhadap perkembangan ilmu dengan menjamin dan menggaji para penterjemah, mendiri­kan perpustakaan-perpustakaan, dan perlu juga dicatat bahwa observatorium pertama didirikan di dunia Islam.
Sebaliknya, dalam sejarah Kristen tercatat beberapa peristiwa menyedihkan yang dialami oleh para ilmuwan, dihukum dan disiksa oleh gereja karena mengemukakan teori-teori yang bertentangan dengan doktrin gereja. Nicolas Copernicus mati merana tahun 1543 M, Giardano Bruno dibunuh tahun 1600 M dan Galileo Galilei mati dalam penjara setelah dipaksa mengingkari teorinya di bawah pengadilan iman (inquisito) gereja Roma tahun 1642 M. Minguel Sarvetto dibakar 1553 atas perintah reformer Kristen bernama Jean Calvin.4
Kiranya perlu segera ditemukan penyebabnya mengapa umat Islam yang memiliki nilai yang begitu besar perha­tiannya terhadap ilmu, malah mundur tertinggal oleh bangsa lain. Mungkinkah hal ini disebabkan oleh perang­kap taklidisme? Tentu tidak mudah untuk menjawabnya.

Hakekat dan Fungsi Ilmu
Dalam perbincangan sehari-hari terdapat beberapa kata yang semakna yaitu pengetahuan, ilmu, dan ilmu pengetahuan. Pengetahuan (knowledge) adalah kumpulan fakta-fakta yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya mengenai suatu hal tertentu, sedangkan ilmu (sains, science) dalam pengertian sehari-hari tidak bisa begitu saja disamakan dengan kata ilmu dalam arti se­sungguhnya yang dirujuk dari konsep Al Qur’an. Dalam pengertian sehari-hari ilmu adalah pengetahuan yang telah disistematisir, disusun teratur mengenai suatu bidang tertentu yang jelas batas-batasnya mengenai sasaran, cara kerja, dan tujuannya. 
Ilmu (sains) diperoleh dan disusun tidak cukup hanya dari pencaman dan perenungan melainkan berkembang melalui pencerapan indera dan penginderaan (sensation), pengumpulan data, perbandingan data, penilaian jumlah berupa perhitungan, penimbangan, pengukuran, dan penakaran meningkat dari data-data yang bersifat khusus menuju ke kesimpulan yang umum (induksi) atau sebaliknya, dari data yang bersifat umum menuju yang bersifat khusus (deduksi). Ilmu (sains) sepenuhnya bersifat empirik. Sesuatu yang tidak bisa diindera, diukur, ditimbang atau dilihat tidak bisa menjadi obyek ilmu (sains). Kumpulan dari ilmu (sains) disebut dengan pengetahuan.5
Ilmu menurut konsepsi Islam secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu ilmu Allah yang mencakup segala sesuatu, termasuk yang dapat disaksikan oleh indera manusia maupun yang tidak bisa disaksikan oleh indera (gaib) yang hanya bisa diketahui oleh manusia lewat wahyu. Kedua adalah, ilmu manusia meliputi ilmu perole­han dan ilmu laduni. Ilmu perolehan kita dapatkan lewat berbagai perenungan dan pembuktian, sedangkan ilmu laduni adalah ilmu yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang tertentu yang dipilih-Nya. Dalam hal ini, hanya mereka yang bersih dan suci hatinya yang berpel­uang mendapatkan ilmu ini. Dan jika ia mendapatkan ilmu ini maka terkuaklah sebagian besar rahasia alam dan kehidupan di hadapannya. Sampai di sini cukup jelas bahwa kata ilmu dalam Al Qur’an tidak bisa begitu saja disamakan dengan kata ilmu dalam pengertian sehari-hari. Islam memandang bahwa terdapat kesatuan penciptaan, kesatuan pengaturan, dan kesatuan mekanisme dalam alam kehidupan. Oleh karenanya hanya ada satu realitas melip­uti yang riil dan yang gaib. Salah satu tujuan ilmu adalah mengetahui hakekat realitas termasuk segala mekanisme di dalamnya baik untuk kepentingan pragmatis maupun untuk lebih jauh lagi untuk mengenal Sang Pencip­ta.
Ilmu menurut konsepsi Islam tidak melihat keterpisahan antara yang riil dan yang gaib, sebagai konsekuensinya Islam melihat bahwa peristiwa atau sebuah meka­nisme alam tidak bisa dijelaskan hanya secara empirik sebagaimana dikemukakan oleh sains. Dengan demikian ilmu dalam pengertian sehari-hari yang tidak lebih sebatas sains, merupakan reduksi dan tidak mungkin mampu menca­pai hakekat realitas. Anehnya sains (ilmu) yang hanya sebuah reduksi ini dipercaya mampu menjelaskan segala-galanya. Inilah barangkali salah satu penyebab perkem­bangan sains tidak menambah kedekatan kita dengan Sang Pencipta, bahkan sebaliknya telah menimbulkan kerusakan kehidupan. Ilmu yang benar akan mampu meningkatkan ketakwaan seseorang terhadap Tuhannya.
Salah satu tujuan penciptaan manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah Allah (khalifatullah fil ardl).6 Manusia mendapat tugas mewakili Allah mengelola dan menyuburkan bumi untuk kepentingan manusia sendiri. Tentu saja banyak dibutuhkan pengetahuan agar manusia mampu melaksanakan tugas ini. Dalam hal ini, secara pragmatis ilmu membantu manusia menunaikan tugas kekha­lifahan yang diamanahkan kepadanya. Dengan ilmu pula manusia semakin banyak tahu akan keagungan ciptaan Allah. Ilmu yang benar akan menuntun manusia mensyukuri nikmat yang dilimpahkan Allah kepadanya.

Islamisasi Ilmu
Sebenarnya, bagian ini akan lebih tepat jika diberi sub judul Islamisasi Sains, karena dalam Islamisasi Ilmu mengandung kontradiksi. Bukankah semua ilmu berasal dari Allah? Lalu mengapa harus ada Islamisasi Ilmu? Namun karena kesalahan menyamakan ilmu dengan sains sudah sedemikian luas sehingga tidak lagi terasa sebagai kesalahan, maka agar tidak membingungkan ada baiknya untuk sementara kita mengikuti pengertian umum tersebut. 
Isu islamisasi ilmu mencuat ke permukaan sejak terbitnya buku The Encounter of Man and Nature karya Seyyed Hossein Nasr (l968). Dalam buku tersebut Nasr mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan arus dominan pemikiran sains saat itu yang mengatakan sains sesuai dengan Islam. Menurut Nasr, ilmu yang saat ini dominan ( sains modern) tidak islami karena tidak ber­sumber dari wawasan Qur’ani, maka harus diganti ilmu-ilmu Islam tradisional yang dikembangkan oleh para ilmuwan muslim klasik. Isu islamisasi ilmu ini selan­jutnya dikembangkan oleh Dr. Naquib Al Attas dan dipo­pulerkan oleh Ismail Raji Al Faruqi serta Ziaudin Sar­dar. Isyu ini menemukan momentumnya bersamaan dengan dicanangkannya abad ke lima belas hijriah sebagai abad kebangkitan umat Islam.
Ternyata respon para ilmuwan muslim terhadap isla­misasi ilmu sangat beragam dan membentuk sebuah spektrum yang lebar. Pendapat paling ekstrim menganggap sains modern bersifat universal, netral dan bebas nilai (free Value), karena itu hanya ada satu sains.7 Menurut mereka rasionalitas sains tidak bisa dikompromikan dengan urusan-urusan keagamaan yang berdimensi lain. Islamisasi sains, bagi mereka berarti mengorbankan obyektivitas dan netralitas sains.
Di ujung ekstrim yang lain, pendapat ilmuwan yang mengatakan bahwa sains modern adalah sains Barat yang tumbuh dari akar budaya Barat yang sekuler. Bagi mereka sains bukanlah sesuatu yang netral dan bebas nilai, melainkan terikat dengan asumsi-asumsi epistemologis tertentu. Sardar dalam bukunya Masa Depan Islam mengata­kan bahwa (1) persepsi bukanlah netral secara konseptual terstruktur baik oleh kategori-kategori linguistik, sikap-sikap mental maupun kepentingan-kepentingan para pengamat.; (2) kategori-kategori yang dengannya kita mengorganisasikan dan pada gilirannya mengetahui penga­laman, juga aturan-aturan tentang kebenaran dan validi­tas , mencerminkan nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan kelompok yang berbeda, pada masa sejarah yang berbeda ; (3) manusia berhubungan dengan realitas bukan sebagai sesuatu yang sudah ada (given) tanpa interpretasi, malainkan diperantara dan dibangun oleh skema konseptual (Kant), idiologi-idiologi (Marx), permainan- permainan bahasa (Wittgenstein) atau pun paradigma-paradigma (Kuhn).8
Senada dengan Sardar, Bertrand Russell mengatakan bahwa apa yang diketahui seseorang, dalam arti yang penting, adalah bergantung pada pengalaman pribadi sendiri. Ia mengetahui apa yang telah ia lihat dan dengar, apa yang telah ia baca dan apa yang telah ia diberitahukan oleh orang lain kepadanya, dan juga apa yang telah ia simpulkan dari data-data tersebut.9
CA Qadir, penulis buku Filsafat dan Ilmu Pengeta­huan Dalam Islam mengatakan terdapat perbedaan penting antara sains Modern Barat dengan ilmu Islam Klasik : 
Salah satu sebab utama perbedaan itu adalah kenya­taan yang pertama (ilmu Islam) didasarkan atas konsepsi spiritual tentang manusia dan alam tempat dia hidup sedangkan yang kedua (sains modern) sifat­nya sekuler dan tidak mengandung wawasan tentang yang kudus. Justru karena itulah menurut para pemi­kir Islam, teori Barat mengenai pengetahuan merupa­kan salah satu tantangan yang terbesar bagi umat manusia. Pengetahuan Barat telah menjadi proble­matik karena telah kehilangan tujuannya.10

Diantara dua kutub pendapat ekstrim tersebut terda­pat beberapa pendapat lain yang lebih moderat, disamping pendapat Maurice Buchaille yang sulit dimasukan dalam spektrum tersebut. Ali Kattani berpendapat bahwa sains Islam tidak berbeda secara radikal dengan sain Barat, hanya saja prioritas riset dan penekanannya yang berbe­da. Begitu pula tujuan- tujuan pemakaiannya.11
Pendapat moderat lainnya banyak dianut oleh ilmuwan muslim di Pakistan, Semenanjung Melayu dan Indonesia, yang menganggap isi sain bersifat universal, tetapi penerapannya harus untuk tujuan-tujuan islami. Contoh paling baik kelompok ini adalah Dr. Abdussalam, seorang ilmuwan Pakistan pemegang hadiah Nobel bidang fisika l979.
Menurut Salam karena sains itu bersifat universal, maka tidak penting gagasan Islamisasi sains dan teknolo­gi. Yang diperlukan adalah saintifikasi umat Islam dengan cara mengirim lebih banyak siswa-siswa muslim untuk belajar di negeri-negeri yang kini sedang menjadi pusat-pusat perkembangan sains dan teknologi.12 Senada dengan pendapat Abbdussalam, Andi Hakim Nasution menilai gagasan Islamisasi sains justeru akan memagari perkem­bangan sains itu sendiri karena percepatan perkembangan sains lebih cepat dibanding dengan perkembangan umat Islam terhadap ajarannya. Nasution memahami isu Isla­misasi sebagai upaya mengembangkan sains disesuaikan dengan doktrin Islam.
Sekarang ini di kalangan ulama dan cendekiawan Islam ada gerakan yang ingin “mengislamkan sains”. Kalau ini benar bahwa semua penelitian baru dalam sains yang dilakukan ilmuwan muslim harus sesuai dengan isi Qur’an dan Hadits, maka pemeluk agama Islam akan menda­pat giliran terjebak dalam perangkap yang sama seperti para gerejawan Nasrani beberapa abad yang lalu terjebak mempermasalahkan Galileo atas nama agama. Mengapa? Karena apa yang kita anggap adalah isi Qur’an dan Hadits sebagian juga sampai kepada umat Islam dalam bentuk tafsiran manusia yang belum tntu benar mutlak ini sama saja mengebangkan sans dengan persyara­tan. Karena mengembangkan sains identik dengan mencari kebenaran, maka pencarian kebenaran itu dikekang oleh kendala yang belum tentu benar mutlak, sehingga sebagai akibatnya apa yang ditemukan sebagai kebenaran ilmiah itu boleh saja tercemar oleh ketidakbenaran.13
Sementara itu, dari kubu yang sama tampil Dr. Marwah Daud Ibrahim yang menyangkal tuduhan bahwa sains modern sebagai penyebab utama krisis yang sedang ber­langsung, baik krisis lingkungan, krisis moral maupun krisis spiritual. Meskipun ada efek negatif dari sains terutama pada dataran penerapannya (teknologi), dapat diatasi dengan perkembangan Iptek selanjutnya. Marwah tetap meyakini bahwa sains merupakan rahmat Allah buat manusia.14
Apapun juga responsnya, gerakan Islamisasi semakin hari semakin menampakkan sosoknya meskipun belum banyak hasilnya. Menurut pengamatan Hanna Jumhana Bastaman terdapat beberapa bentuk pola pemikiran “Islamisasi Sains”, mulai dari bentuk yang paling supervisial sampai bentuk yang agak mendasar. Pola-pola tersebut adalah15 :
1. Similarisasi, menyamakan begitu saja konsep-konsep sains dengan konsep-konsep yang berasal dari agama, padahal belum tentu sama. Misalnya, menganggap roh sama dengan jiwa, atau nafs al ammarah, nafs al lawwamah dan nafs al muthma’innah dari Al Qur’an; dianggap identik dengan konsep-konsep id, ego, dan super ego dari psikologi, atau menyamakan super ego dengan qalb. Penyamaan seperti ini sebenarnya dapat disebut sebagai similarisasi semu, yang dapat menga­kibatkan biasnya sains dengan direduksinya agama ke taraf sains.
2. Paralelisasi; menganggap sejalan (paralel) konsep yang berasal dari sains karena kemiripan konotasinya, tanpa menyamakan (mengidentikkan) keduanya. Misalnya menganggap Perang Dunia III sejalan dengan kiamat, atau menjelaskan Isra’ Mi’raj paralel dengan perjala­nan ruang angkasa dengan menggunakan rumus fisika S = v.t (jarak sama dengan kecepatan kali waktu), di mana faktor velocitas = tidak terhingga. Paralelisasi sering digunakan sebagai scientific Explanation atas kebenaran ayat ayat Al Qur’an dalam rangka menja­barkan syiar Islam kepada kelompok masyarakat terten­tu.
3. Komplementasi; antara sains dan agama saling mengisi dan melengkapi satu dengan lainnya, tetapi tetap mempertahankan eksistensi masing-masing. Misalnya manfaat puasa Romadhon (untuk kesehatan) dijelaskan dengan prinsip-prinsip dietry dari ilmu kedokteran. Atau kebijakan Keluarga Berencana didukung dengan ayat-ayat Qur’an dan Hadits Nabi. Dalam hal ini, tampaknya saling mengabsyahkan antara sains dan agama.
4. Komparasi; membandingkan antara konsep sains dan konsep agama mengenai gejala-gejala yang sama. Misal­nya teori motivasi dalam ilmu jiwa dibandingkan dengan konsep motivasi yang dijabarkan dalam ayat-ayat Al Qur’an. 
5. Induktivikasi; asumsi-asumsi dasar dari teori-teori ilmiah yang didukung oleh temuan-temuan empiris dilanjutkan pemikiran teoritis abstrak ke arah pemik­iran metafisika/gaib, kemudian dihubungkan dengan prinsip-prinsip agama dalam hal tersebut. Teori mengenai adanya “sumber gerak yang tak bergerak” dari Aristoteles misalnya, merupakan contoh proses induk­tivikasi dari pemikiran sains ke pemikiran agama. Contoh lain, adanya keteraturan dan keseimbangan yang sangat menakjubkan di alam semesta ini menyimpulkan adanya Hukum Maha Besar yang mengatur.
6. Verifikasi; mengungkapkan hasil-hasil temuan peneli­tian ilmiah yang menunjang dan membuktikan kebenaran ayat-ayat Qur’an. Misalnya penelitian mengenai poten­si madu sebagai obat yang dihubungkan dengan Surat An-Nahl : 69, dan hadits “lazimkanlah memakai dua `macam obat, yaitu Al Qur’an dan madu”.
Menurut penilaian Bastaman sendiri, keenam pola di atas belum memuaskan karena terasa ada semacam missing link antara keduanya yaitu ilmu dan agama. Dalam artikel tersebut, Bastaman mengajukan pola lain yang lebih bercorak falsafi/metafisis yang disebutnya sebagai fondasi falsafi dan sikap Islami yaitu memberi landasan filsafat yang Islami kepada sains. Tentu saja tidak tertutup kemungkinan kita menemukan pola baru yang lebih radikal.

Penutup
Telah kita lihat bahwa Islam tidak sebagaimana yang dituduhkan sebagian orang, sebagai agama yang anti kemajuan dan anti ilmu pengetahuan, tetapi justru Islam adalah agama utama yang mengedepankan ilmu sebagai sesuatu yang penting. Hal ini dibuktikan dengan banyak­nya ayat Al Qur’an yang menganjurkan manusia menguasai Ilmu. Besar penghargaan Islam terhadap mereka yang berilmu.
Yang menjadi persoalan adalah ternyata ilmu dalam konsepsi Al Qur’an tidak bisa begitu saja disamakan dengan ilmu dalam pengertian sehari-hari (sain). Terda­pat perbedaan asumsi diantara keduanya. Dari sinilah lalu muncul gagasan islamisasi ilmu atau lebih tepatnya islamisasi sain.
Dalam menanggapi isu ini ternyata para ilmuwan muslim memperlihatkan respon yang beragam. Kini terjadi dialog yang panjang diantara mereka dan melahirkan berbagai lembaga yang secara serius melakukan riset di bidang ini. Nampaknya masih dibutuhkan waktu yang panjang untuk mewujudkan seperti apa sain yang islami itu. Yang jelas ilmu dalam konsep Al Qur’an akan membawa manusia semakin dekat dengan Tuhannya, bukan menjauh bahkan mengingkari sebagaimana dampak dari konsep sains modern.

0 komentar:

Poskan Komentar